Sistem Bagi Hasil Dalam Bank Syariah

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Sejarah Kelahiran Bank Syariah

 

Prinsip umum hukum Islam, berdasarkan pada sejumlah ayat dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa perbuatan memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar, atau menerima keuntungan tanpa memberikan nilai imbangan secara etika dilarang (Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud, 2001:34).  Riba hanyalah masalah khusus dari perbuatan memperkaya diri sendiri secara tidak benar.  Konsep riba tidak terbatas pada bunga.  Tidak bisa disangkal bahwa semua bentuk riba dilarang mutlak oleh Al-Qur’an yang merupakan sumber pokok hukum Islam.  Demikian pula dalam beberapa hadis sebagai sumber yang paling otoritatif.

Di dalam Al-Qur’an larangan riba terdapat dalam empat ayat yang berlainan (M. Umer Chapra, 1995:56).

Yang pertama, Surat Ar-Rum: 39, di Mekah yang menitik beratkan jika bunga mengurangi rizki yang berasal dari rahmat Allah, yang kedua, Surat An-Nisa: 161, pada permulaan periode Madinah sangat mencelanya, sejalan dengan pelarangannya dalam ayat sebelumnya.  Ayat ini menggolongkan mereka yang memakan riba sama dengan mereka yang mencuri harta orang lain dan Allah mengancam kedua pelaku tersebut dengan siksa yang pedih.  Yang ketiga, Surat Al-Imran: 130, yang mengharamkan secara temporal, keempat, Surat Al-Baqarah:278-279, yang memerintahkan kepada orang-orang muslim untuk menjauhkan diri dari riba yaitu mereka yang menginginkan kebahagiaan bagi diri mereka sendiri (kebahagiaan dalam pengertian komprehensif yang Islami).

 

Nabi Muhammad SAW, juga sangat mengecam riba, tidak hanya mereka yang member dan menerima riba, tetapi juga mereka yang mencatat atau ikut menjadi saksi atas transaksi tersebut.  Bahkan Nabi menyatakan bahwa dosa pemanfaatan riba sama dengan penyelewengan seksual 36 kali bagi mereka yang sudah menikah atau sama dengan bersetubuh dengan ibu kandungnya.

Di dalam Al-Qur’an term riba dapat dipahami dalam delapan macam arti,yaitu: pertumbuhan (growing), peningkatan (increasing), bertambah (surelling), meningkat (rising), menjadi besar (being big), dan besar (great) dan juga digunakan dalam pengertian bukit kecil (hill ock) (Abdullah Saeed,1996:30). Walaupun istilah riba tampak dalam beberapa makna, namun dapat diambil suatu pengertian umum, yaitu meningkat (increase), baik menyangkut kualitas maupun kuantitasnya (Abdullah Saeed,1996:30).  Meskipun demikian, ini tidak berarti semua peningkatan atau pertumbuhan adalah riba.  Yang riba adalah pinjaman yang dipersyaratkan sebelumnya keharusan memberikan adalah riba (Yusuf Al- Qardhawi, 2002:58).

Untuk menggambarkan berbagai konotasi al-riba, Ibnu Taimiyah menulis bahwa istilah itu, termasuk di dalamnya seluruh model bunga sebagai akibat dari pelunasan yang bertambah (riba al-nasi’ah) atau pertumbuhan barang yang tidak seimbang (riba al-fadhl) dan juga termasuk setiap pinjaman yang menghasilkan keuntungan (A.A Islahi, 1988:159).

Dalam syariah secara teknis, riba mengacu kepada premi yang harus dibayar oleh peminjam kepada pemberi pinjaman bersama dengan pinjaman pokok sebagai syarat untuk memperoleh peminjaman lain atau penangguhan (M. Umer Chapra, 1995:27).  Sejalan dengan hal ini, riba mempunyai pengertian yang sama, yaitu sebagai bunga, sesuai dengan konsensus para fuqaha (ahli hukum Islam) tanpa terkecuali.  Para ulama umumnya membagi riba: riba nasi’ah dan riba fadhl.  Atas dasar ini yang dimaksud dengan riba pada umumnya mencakup segala macam penundaan atau tangguhan yang menyebabkan perbedaan nilai tukar suatu komoditi (Abdullah Saeed, 1996:62).

Pelarangan riba nasi’ah mempunyai pengertian bahwa penetapan keuntungan positif atas uang yang harus dibayar, dikembalikan dari suatu pinjaman sebagai imbalan karena menenti, pada dasarnya tidak diijinkan oleh syariah.  Yang menjadi inti persoalan disini adalah keuntungan positif yang ditentukan dimuka.  Fahruddin Al- razi (1148-1210) sebagaimana dikutip oleh A.A Islahi, mengatakan, mereka orang-orang arab jahiliyah penyembah berhala menggunakan peminjaman uang dengan syarat-syarat tertentu dan atas pinjaman uang itu dikenakan tambahan tertentu setiap bulan, sementara pinjaman pokok sendiri tetap utuh.  Pada waktu itu berlaku ketentuan, jika sampai waktunya si peminjam tidak bias melunasinya, si peminjam akan memberikan waktu tambahan dengan tambahan pembayaran bunga pula.  Inilah system bunga yang berlaku pada orang-orang arab di masa jahiliyah (A.A Islahi, 1988:158).  Perlu dicatat bahwa menurut syariah, waktu tunggu selama pembayaran kembali pinjaman tidak dengan sendirinya memberikan justifikasi atas keuntungan positif dimaksus (M. Umer Chapra, 1995:28).

Download Full

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: