Hak Cipta Intelektual

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam rangka pembangunan di bidang hukum di Indonesia sebagaimana termaksud dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.IV/MPR/1999 Tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004, serta untuk mendorong dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu pengetahuan, seni, dan sastra serta mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa dalam Wahana Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, maka dirasakan perlunya perlindungan hukum terhadap hak cipta. Perlindungan Hukum tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, Undang-undang yang melindungi karya cipta adalah Undang-undang nomor 6 tahun 1982 tentang hak cipta, sebagaiman telah di ubah oleh undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang perubahan Atas Undang-undang Nomor 6 tahun 1982 tentang hak cipta, dan terkhir telah di ubah lagi dengan undang-undang Nomor 12 tahun 1997 tentang perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang hak cipta beserta beberapa peraturan pelaksanaannya.dan pada tanggal 29 Juli 2002 telah diundangkan  Undang-Undang yang terbaru yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak diundangkan sehingga karenanya Undang-undnag Hak Cipta yang baru tersebut tidak banyak disinggung dalam penulisan ini.

BAB  II

PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Pengakuan Hak Cipta

Harsono Adisumarto (1990: 1-4) dalam bukunya “Hak Milik Intelektul Khususnya Hak Cipta” mengemukakan bahwa faktor–faktor yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan hak cipta adalah faktor sosial, politik dan teknologi. Khusus mengenai teknologi dapat diutarakan bahwa setelah di temukannya mesin cetak oleh  J. Guetenberg pada pertengahan abad ke-15, maka terjadilah perubahan dalam waktu yang pendek serta dengan biaya yang lebih ringan, sehingga perdagangan buku menjadi meningkat.

Lebih lanjut Harsono mengatakan, dalam abad ke-15 dan sebelumnya, kelompok yang berhubungan dengan penerbitan dan perdagangan buku termasuk suatu gilda yang memperoleh kewenangan khusus dari penguasa raja untuk memperbanyak, mencetak dan memperdagangkan buku.

Dalam akhir abad ke-17 para pedagang dan penulis menentang kekuasaan yang diperoleh para penerbit dalam penerbitan buku, dan menghendaki dapatnya ikut serta dan untuk menikmati hasil ciptaannya dalam bentuk buku. Sebagai akibat ditemukanya mesin cetak yang membawa akibat terjadinya perubahan masyarakat maka dalam tahun  1709 parlemen Inggris menerbitkan Undang-undang Anne (The Statute of Anne) yang bertujuan untuk membatasi hak cipta yang di pegang oleh penerbit dan Undang-undang tersebut dianggap sebagai Undang-undang Hak Cipta yang pertama.

Lebih lanjut Harsono mengatakan, tidak hanya faktor teknologi yaitu dengan di temukaknya mesin cetak dan faktor politik dengan usaha penguasa untuk membatasi kewenangan para penerbit dalam bidang penerbitan dan perdagangan  buku, tetapi faktor sosialpun mendukung terjelmanya hak cipta yang melekat atas karya tulis para pengarang dan penulis. Dalam Tahun 1690, John Locke yang di kutip Harsono mengutarakan dalam bukunya Two Treatises on Civil Government   bahwa pengarang atau penulis mempunyai hak dasar (“natural Right”)  atas karya ciptanya.

Adapun perkembangan di Belanda dengan Undang-undang tahun 1817, hak cipta (Kopijregt) tetap berada pada penerbit; baru dengan Undang-undang hak cipta tahun 1881 hak khusus pencipta (uitsuitendrecht van de maker)  sepanjang mengenai pengumuman dan perbanyakan memperoleh pengakuan formal dan materiil.

Dalam tahun 1886 terciptalah konvensi Bern  untuk perlindungan karya sastra dan seni, suatu pengaturan yang modern di bidang hak cipta. Kehendak untuk ikut serta dalam Konvensi Bern, merupakan dorongan bagi Belanda terciptanya Undang-undang Hak Cipta Tahun 1912 (Auteurswet 1912).

Download Full on Word

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: