Makalah Saham

URAIAN TEORITIS
2.1 Ruang Lingkup Saham
2.1.1 Pengertian Saham
Saham (stocks) adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu
perseroan terbatas (Siamat, 2001). Dalam transaksi jual beli di Bursa Efek, saham merupakan
instrument yang paling dominan diperdagangkan. Saham tersebut dapat diterbitkan dengan
cara atas nama atau atas unjuk. Selanjutnya saham dapat dibedakan antara saham biasa
(common stock) dan saham preferen (prefereed stocks). Perbedaan kedua jenis saham ini
antara lain adalah sebagai berikut:
– Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba
Saham biasa (common stocks)
– Memiliki hak suara
– Adanya hak memperoleh pembagian kekayaan apabila perusahaan bangkrut yang dilakukan
setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
– Memiliki hak paling dahulu memperoleh deviden
Saham preferen (prefereed stocks)
– Tidak memiliki hak suara
– Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus
– Memperoleh hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah
kreditor apabila perusahaan dilikuidasi.
2.1.2 Penilaian Saham
Nilai suatu saham dapat dibedakan 3 yakni:
a. Nilai buku (book value) adalah nilai saham yang didasarkan pada pembukuan emiten
b. Nilai pasar (market value) adalah nilai saham berdasarkan harga pasar dan tergantung
penawaran dan permintaan.
c. Nilai intrinsik saham adalah nilai seharusnya dari saham yang dibentuk oleh faktor
fundamental perusahaan
2.1.3 Jenis Penjatahan Saham
Pelaksanaan penjatahan saham dalam proses pasar perdana atau allotmen dikenal
beberapa sistem sebagai berikut:
a. Fixed allotment yaitu cara penjatahan dimana anggota penjamin emisi maupun agen
penjual telah memiliki pembeli sehinggga jatah saham yang diberikan oleh penjamin
pelaksana tidak dijual kepada klien lainnya.
b. Separate account yaitu sistem yang hampir sama dengan sistem fixed allotmen. Namun
pada sistem ini disamping ada jatah untuk klien dekat, juga menyediakan saham yang akan
dijual kepada investor di luar klien dekat. Kelemahan kedua sistem ini tidak mencerminkan
pemerataan karena investor di luar klien harus berebutan sisa saham yang tidak diberi klien
dekat penjamin emisi dan agen penjual.
c. Pooling. Dalam sistem ini seluruh pemesanan saham di-pool pada penjamin emisi
pelaksana. Jika terjadi kelebihan permintaan atau oversubscribed akan dilakukan
penjatahan secara proporsional. Seluruh pemesan diberi jatah satu-satuan perdagangan.
Apabila jumlah saham yang tersedia tidak mencukupi, maka penjatahan dilakukan dengan
cara diundi. Jika dalam penjatahan satu-satuan perdagangan terdapat sisa, maka pembagian
lebih lanjut dilakukan secara proporsional berdasarkan jumlah pesanan dari pemesan.
2.1.4 Risiko Investasi di Pasar Modal
Menurut Siamat (2001), resiko investasi di pasar modal pada prinsipnya
semata-mata berkaitan dengan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga (price
volatility). Resiko-resiko yang mungkin dapat dihadapi pemodal tersebut antara lain
sebagai berikut:
a. Risiko daya beli
Sifat pemodal dalam menangani faktor resiko di pasar modal terdiri atas dua, yaitu
pemodal yang tidak menyukai resiko (risk averter) dan pemodal yang justru
menyukai tantangan resiko (risk averse). Pemodal kategori pertama akan mencari
atau memilih jenis investasi yang akan memberikan keuntungan yang jumlahnya.
Sekurang-kurangnya sama dengan investasi yang dilakukan sebelumnya.
Disamping itu, pemodal mengharapkan memperoleh pendapatan atau capital gain
dalam waktu yang tidak lama. Resiko daya beli ini berkaitan dengan kemungkinan
terjadinya inflasi yang menyebabkan nilai riil pendapatan akan lebih kecil.
b. Resiko bisnis
Resiko bisnis adalah suatu resiko menurunnya kemampuan memperoleh laba yang
pada gilirannya akan mengurangi pula kemampuan perusahaan membayar bunga
atau deviden.
c. Resiko tingkat bunga
Biasanya naiknya tingkat bunga akan menekan harga jenis surat-surat berharga
yang berpendapatan tetap termasuk harga-harga saham
d. Resiko pasar
Apabila pasar bergairah (bullish) maka hampir semua harga saham di bursa efek
mengalami kenaikan. Sebaliknya apabila pasar lesu (bearish), saham-saham akan
ikut mengalami penurunan. Perubahan psikologi pasar dapat menyebabkan hargaharga
surat berharga anjlok terlepas dari adanya perubahan fundamental atas
kemampuan perolehan laba perusahaan.
e. Resiko likuiditas
Resiko ini berkaitan dengan kemampuan suatu surat berharga untuk dapat segera
diperjualbelikan tanpa mengalami kerugian yang berarti.
2.2 Ruang Lingkup Pasar Modal
2.2.1 Pengertian Pasar Modal
Pasar modal adalah suatu tempat yang terorganisasi dimana efek-efek
diperdagangkan yang disebut Bursa Efek. Bursa efek (stock exchange) adalah suatu sistem
yang terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik
secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya ( Siamat, 2001). Fungsi Bursa Efek adalah
menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek yang wajar melalui mekanisme
permintaan dan penawaran. Definisi pasar modal menurut Kamus Pasar Uang dan Modal
adalah pasar konkret atau abstrak yang mempertemukan pihak yang menawarkan dan yang
memerlukan dana jangka panjang, yaitu jangka satu tahun keatas.
2.2.2 Struktur dan Hukum Pasar Modal
Struktur pasar modal di Indonesia tertinggi berada pada Menteri Keuangan
yang menunjuk Bapepam sebagai lembaga pemerintah yang melakukan pembinaan,
pengaturan dan pengawasan pasar modal. Sementara itu, bursa efek bertindak sebagai
pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem atau sarana untuk
mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak lain dengan tujuan untuk
memperdagangkan efek di antara mereka. Marak dan rumitnya kegiatan pasar modal,
menuntut adanya perangkat hukum sehingga pasar lebih teratur, adil, dan sebagainya.
Jadi hukum pasar modal mengatur segala segi yang berkenaan dengan pasar modal.
Di Indonesia, terdapat UU Pasar Modal, yaitu UU No. 8/ 1995 yang mengatur tentang
pasar modal. Menurut UU ini, Bapapem diberi kewenangan sebagai pengawas dan
memiliki otoritas penyelidikan serta penyidikan.
2.3 Tahapan Penawaran Umum (Go public)
Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana adalah kegiatan
penjualan sekuritas kepada masyarakat baik perorangan maupun lembaga di pasar perdana
(Rusdin, 2006). Go public merupakan salah satu cara yang digunakan perusahaan untuk
memperoleh dana. Semakin tinggi harga saham maka jumlah dana yang diterima semakin
besar dan sebaliknya sehingga perusahaan tidak ingin menawarkan saham perdananya
dengan harga yang terlalu banyak mengalami underpricing kepada calon investor sedangkan
investor menginginkan untuk membeli saham yang mengalami underpricing dalam jumlah
yang besar karena memberikan keuntungan ketika terjadi selisih positif antara harga saham
dipasar sekunder yang lebih tinggi dengan harga saham di pasar perdana yang lebih rendah.
Penawaran perdana ini dilakukan setelah mendapat ijin dari BAPEPAM dan sebelum
sekuritas tersebut diperdagangkan di pasar sekunder (bursa efek)
Skema prosedur penerbitan sekuritas
Perusahaan perlu memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari BEI dengan
mengajukan permohonan pencatatan ke BEI dengan melampirkan dokumen-dokumen
yang diperlukan. Sepanjang dokumen-dokumen dan informasi yang disampaikan
telah mencukupi dan lengkap, BEI hanya memerlukan waktu 10 hari bursa untuk
memberikan persetujuan pencatatan. Jika memenuhi syarat, BEI akan memberikan
surat persetujuan prinsip pencatatan yang dikenal dengan istilah Perjanjian
Pendahuluan Pencatatan Efek.
calon perusahan terbuka tersebut / Perusahaan yang akan go public menghubungi
BAPEPAM dengan menyertakan pernyataan pendaftaran. Selanjutnya BAPEPAM
akan melakukan review terhadap persyaratan disclosure. Apabila disetujui maka
pendaftaran tersebut menjadi efektif dan sekuritas yang ditawarkan efektif berada di
pasar perdana. Perusahaan kemudian melakukan pendaftaran untuk listing di BEI.
BEI melakukan review untuk persyaratan listing. Apabila disetujui perusahaan
membayar fee ke BEI dan sekuritas tersebut terdaftar di pasar perdana.
2.3.1 Rencana dan Persiapan Go public
Untuk Go public, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan
penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan Go public atau penawaran umum,
serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan BAPEPAM-LK. Tahapan ini
merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan
dengan proses penawaran umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan
menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka penawaran
umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan
penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu:
a. Penjamin Emisi (underwriter), yang tugasnya adalah sebagai berikut:
• memberikan nasehat mengenai jenis efek yang sebaiknya dikeluarkan,
harga yang wajar untuk efek tersebut dan jangka waktu efek.
• membantu menyelesaikan tugas administrasi dalam pengajuan pernyataan
pendaftaran emisi efek yakni pengisian dokumen pernyataan pendaftaran
emisi efek, penyusunan prospektus, merancang specimen efek dan
mendampingi emiten selama proses evaluasi.
• mengorganisasikan penyelenggaraan emisi yakni pendistribusian efek dan
menyiapkan sarana-sarana penunjang
b. Akuntan Publik (Auditor Independen). Bertugas melakukan audit atau
pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten, memeriksa pembukuan
apakah sudah sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia dan ketentuan
Bapepam
c. Konsultan Hukum bertugas untuk meneliti aspek-aspek hukum emiten dan
memberikan pendapat segi hukum tentang keadaan dan keabsahan usaha
emiten.
d. Notaris untuk membuat berita acara Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),
membuat konsep akta perubahan anggaran dasar dan menyiapkan naskah
perjanjian dalam rangka emisi efek.
e. Agen penjual yang umumnya adalah perusahaan efek yang bertugas melayani
investor yang akan memesan saham, melaksanakan pengembalian uang
kepada investor dan menyerahkan sertifikat efek kepada pemesan (investor)
f. Perusahaan penilai diperlukan apabila perusahaan emiten akan melakukan
penilaian kembali aktivanya yang dimaksudkan untuk mengetahui berapa
besarnya nilai wajar aktiva perusahaan sebagai dasar dalam melakukan emisi
melalui pasar modal.
g. Lembaga penunjang pasar sekunder merupakan lembaga yang menyediakan
jasa-jasa dalam melaksanakan transaksi jual beli di bursa yang terdiri dari:
•. Pedagang efek sebagai pihak yang melakukan jual beli efek untuk diri
sendiri dan menciptakan pasar bagi efek tertentu dan menjaga
keseimbangan harga serta memelihara likuiditas efek.
•.Perantara pedagang efek (broker) sebagai pihak yang bertugas menerima
order jual dan order beli investor untuk kemudian ditawarkan di bursa efek.
Atas jasa keperantaraan tersebut, broker mengenakan fee kepada investor.
• Perusahaan efek adalah pihak yang melaksanakan kegiatan baik sebagai
penjamin emisi efek (underwriter), perantar perdagangan efek, manajer
investasi, maupun penasehat investasi.
• Biro administrasi efek yaitu pihak yang berdasarkan kontrak dengan emiten,
secara teratur menyediakan jasa-jasa melaksanakan pembukuan, transfer dan
pencatatan, pembayaran dividen, pembagian hak opsi, emisi sertifikat atau
laporan tahunan untuk emiten.
2.3.2 Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung, calon
emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK
menyatakan pernyataan pendaftaran menjadi efektif.
2.3.3 Tahap Penawaran Saham (tahapan emisi)
Tahapan ini merupakan tahapan utama yakni dilakukannya penawaran umum
di pasar perdana, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada
masyarakat investor melalui agen penjual yang ditunjuk, penjatahan untuk
underwriter dan emiten hingga penyerahan efek kepada investor. Setelah perusahaan
memperoleh izin dari BAPEPAM dan sebelum menawarkan saham di pasar perdana,
perusahaan akan menerbitkan prospektus (informasi mengenai perusahaan secara detail)
ringkas yang diumumkan di media massa. Dalam prospektus tersebut dicantumkan:
1. Berapa banyak jumlah lembar saham yang ditawarkan, dan pada harga berapa
penawaran perdana tersebut
2. Jadwal kegiatan IPO tersebut
3. Tujuan IPO
4. Penggunaan dana hasil IPO
5. Pernyataan hutang dan kewajiban
6. Analisis dan Pembahasan oleh Manajemen
7. Risiko usaha
8. Kejadian penting setelah tanggal laporan Keuangan
9. Keterangan tentang Perseroan
10. Kegiatan dan prospek usaha
11. Ikhtisar data keuangan
12. Modal sendiri
13. Kebijakan deviden
14. Perpajakan
15. Penjaminan emisi Efek (disini diungkapakan proyeksi laba bersih untuk tahun yang
akan datang dan penentuan harga saham)
16. Profesi penunjang pasar modal
17. Persyaratan pemesanan pembelian saham
18. Penyebarluasan prospketus
Pada prospektus disertakan pula formulir untuk memesan saham (atau sekuritas
lain). Pada waktu investor memesan saham, investor harus sudah menyetorkan dana sejumlah
nilai pesanannya. Jika jumlah yang memesan lebih banyak dari yang ditawarkan, dikatakan
terjadi oversubscribed. Apabila yang terjadi sebaliknya disebut undersubscribed. Saat
terjadi oversubscribed, maka tidak semua pesanan dapat dipenuhi. Sehingga pesanan tersebut
akan dikembalikan underwriter kepada para pemesan. Biasanya waktu yang diperlukan
berkisar 10-14 hari untuk pengembalian tersebut. Prospektus juga mencantumkan harga
saham yang akan dijual (offering price) yang telah ditentukan dahulu oleh emiten dan
underwriter. Dalam menentukan offering price, underwriter dan emiten banyak menghadapi
kesulitan untuk menentukan harga wajar. underwriter cenderung untuk menentukan offering
price lebih rendah dari harga yang diinginkan oleh perusahaan, dengan tujuan untuk menekan
resiko tanggung jawabnya jika saham yang ditawarkan tidak habis. Prospektus ini berfungsi
untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada para calon investor,
sehingga dengan adanya informasi maka investor bisa mengetahui prospek perusahaan
dimasa mendatang, dan selanjutnya akan tertarik untuk membeli sekuritas yang diterbitkan
emiten. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah
ditunjuk. Penjatahan efek untuk mengalokasikan efek pesanan investor dilakukan
sesuai jumlah efek selama masa penawaran umum.Masa Penawaran sekurangkurangnya
tiga hari kerja dan dan selesai selambat-lambatnya 60 hari setelah
efektifnya pernyataan peredaran. Perlu diingat pula bahwa tidak seluruh keinginan
investor terpenuhi dalam tahapan ini. Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana
sebanyak 100 juta saham sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150
juta saham. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka
investor tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di
bursa Efek.
2.3.4 kewajiban Emiten Setelah Go Public
Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya emiten
mencatatkan saham tersebut di Bursa Efek Indonesia sampai perdagangan di pasar
sekunder dilaksanakan selambat-lambatnya 90 hari setelah dimulainya masa
penawaran umum atau 30 hari sesudah ditutupnya masa penawaran umum. Pasar
sekunder atau BEI juga disebut sebagai pasar regular merupakan pasar tempat
dicatatkan dan diperdagangkan saham-saham setelah go public. Pasar sekunder ini
biasanya terbentuk beberapa hari setelah emiten yang melakukan panawaran umum
mencatatkan sahamnya di BEI.
Persyaratan utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu adalah mendapat
pernyataan efektif dari Bapepam atas pernyataan pendaftaran emisi emiten. Saham
yang dicatatkan di BEI dibagi atas dua papan pencatatan yaitu Papan Utama dan
Papan Pengembangan dimana penempatan dari emiten dan calon emiten yang
disetujui pencatatannya didasarkan pada pemenuhan persyaratan pencatatan awal
pada masing-masing papan pencatatan. Papan Utama ditujukan untuk calon emiten
atau emiten yang mempunyai ukuran (size) besar dan mempunyai track record yang
baik. Sementara Papan Pengembangan dimaksudkan untuk perusahaan-perusahaan
yang belum dapat memenuhi persyaratan pencatatan di Papan Utama, termasuk
perusahaan yang prospektif namun belum menghasilkan keuntungan, dan merupakan
sarana bagi perusahaan yang sedang dalam penyehatan sehingga diharapkan
pemulihan ekonomi nasional dapat terlaksana lebih cepat. Adapun Persyaratan
Umum pencatatan di BEI bagi emiten adalah sebagai berikut:
a. Pernyataan Pendaftaran Emisi telah dinyatakan Efektif oleh BAPEPAM-LK.
b. Calon emiten tidak sedang dalam sengketa hukum yang diperkirakan dapat
mempengaruhi kelangsungan perusahaan.
c. Bidang usaha baik langsung atau tidak langsung tidak dilarang oleh Undang-
Undang yang berlaku di Indonesia.
d. Persyaratan pencatatan awal yang berkaitan dengan hal finansial didasarkan pada
laporan keuangan auditan terakhir sebelum mengajukan permohonan pencatatan.
Menurut Sitompul (2000), beberapa keuntungan dalam go public antara lain:
a. Dengan penjualan saham Perusahaan akan mendapatkan uang tunai yang dapat
digunakan sebagai modal jangka panjang,
b. Dengan dana yang diperoleh, perusahaan dapat mengembangkan usahanya dan
untuk membayar hutang dan tujuan-tujuan lainnya.
c. Dengan go public akan meningkatkan nilai pasar dari perusahaan, karena umumnya
perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik likuiditasnya akan lebih
meningkat dibandingkan dengan perusahaan yang masih tertutup.
d. Citra dan perkembangan perusahaan akan meningkat dengan melakukan go public.
e. Setelah perusahaan memasuki pasar modal dan menunjukan kinerja yang baik,
maka akan mudah mendapatkan tambahan modal dari investor-investor individual
maupun investor institusional lainnya
Disamping keuntungan, juga terdapat kekurangan yang harus dihadapi perusahaan
yang go public antara lain:
a. Proses go public membutuhkan tenaga, pengorbanan waktu dan biaya
b. Masuknya peserta baru yang akan ikut mengambil bagian dalam kebijakan
perusahaan, ikut memiliki klaim atas hasil usaha dan harta perusahaan
c. Kewajiban untuk memenuhi keterbukaan informasi yang terus menerus, yang juga
membutuhkan biaya, waktu dan tenaga
d. Transformasi sikap dan tindak tanduk manajemen maupun pemegang saham
pendiri, terutama menyangkut pembinaan hubungan baik jangka panjang dengan
pemegang saham publik yang minoritas.
2.4 Terjadinya Underpricing Saham
Penetapan harga saham perdana pada IPO atau saat go public sangat sulit,
karena tidak ada harga pasar sebelumnya yang dapat diobservasi untuk dipakai
sebagai penetapan penawaran. Selain itu kebanyakan dari perusahaan yang akan go
public mempunyai sedikit atau malahan tidak ada pengalaman terhadap penetapan
harga ini. Sebenarnya sebuah perusahaan yang ingin go public harus berhubungan
dengan underwriter atau penjamin emisi. Di sini terjadi penentuan harga saham yang
ditetapkan bersama antara perusahaan/ emiten bersama pihak penjamin (underwriter).
Terjadinya underpricing adalah adanya asimetri informasi. Asimetri informasi
dapat terjadi antara perusahaan emiten dengan penjamin emisi, atau antar investor.
Underwriter memiliki informasi lebih tentang pasar modal, Sedangkan emiten
merupakan pihak yang tidak memiliki informasi. Underwriter memanfaatkan
informasi yang dimilikinya untuk membuat kesepakatan harga IPO yang optimal
baginya. Karena emiten kurang memiliki informasi, maka emiten menerima harga
yang murah bagi penawaran sahamnya. Semakin besar ketidakpastian emiten tentang
kewajaran harga sahamnya, maka lebih besar permintaan terhadap jasa underwriter
dalam menetapkan harga. Kompensasinya atas informasi yang diberikan underwriter
adalah dengan mengijinkan underwriter menawarkan harga perdana sahamnya di
bawah harga ekuilibrium. Dengan demikian semakin besar asimetri informasi yang
dihadapi investor akan semakin besar ketidakpastian berarti semakin besar risiko
yang dihadapi investor dan semakin besar tingkat keuntungan yang diharapkan oleh
investor dalam melakukan penawaran perdana maka akan menyebabkan tingkat
underpricing semakin tinggi.
Konsep Good Corporate Governance (GCG) menurut Forum For
Governance in Indonesia (FCGI) Corporate Governance didefinisikan sebagai
seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus
(pengelolah) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang
kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban
mereka dengan kata lain sebagai suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan (Arifin, 2005). Corporate governance cakupannya melibatkan semua
pemegang kepentingan (stakeholders) perusahaan dalam rangka mengendalikan
perusahaan. Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi
semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Penerapan corporate governance
perusahaan dikatakan baik apabila perusahaan memenuhi prinsip-prinsipnya, yaitu
kewajaran (fairness), keterbukaan informasi (transparancy), dapat
dipertanggungjawabkan (accountability) dan pertanggungjawaban (responsibility).
Perusahaan memperoleh dana dari pasar modal dan manajer perusahaan akan
dikontrol pula oleh pasar modal. Secara teoritis, perusahaan akan dijalankan sesuai
kepentingan pemegang saham dimana pemegang saham adalah pihak yang paling
berkepentingan terhadap nilai perusahaan. Sejarah lahirnya GCG berawal dari reaksi
pemegang saham di Amerika Serikat tahun 1980-an yang terancam kepentingannya
karena adanya gejolak ekonomi yang luar biasa, karena disebabkan adanya kesalahan
manajemen dalam pengambilan keputusan. Banyak perusahaan melakukan
restrukturisasi dengan menghalalkan segala cara untuk merebut kontrol atas
perusahaan lain. Hal ini menyebabkan publik menilai manajemen perusahaan
mengabaikan kepentingan para pemegang saham sebagai pemilik perusahaan. Untuk
menjamin dan mengamankan kepentingan pemegang saham, Saat ini Bapepam
mewajibkan setiap emiten untuk melakukan good corporate governance, keterbukaan
informasi dan larangan melakukan tindakan yang bersifat conflict of interest.
Peraturan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manajemen pada
perusahaan. Emiten diwajibkan untuk menjalankan perusahaan dengan sebaikbaiknya,
dimulai dari jajaran yang paling atas, yaitu top management. Emiten yang
profesional akan melaksanakan pemisahan antara pemegang saham, komisaris, dan
direksi sedangkan Rapat umum pemegang saham (RUPS), dewan komisaris, dan
dewan direksi merupakan tiga lapisan top management. Corporate Governance
merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa manajemen bertindak yang terbaik
untuk kepentingan stakeholders. Pelaksanaan good corporate governance menuntut
adanya perlindungan yang kuat terhadap hak-hak pemegang saham, terutama
pemegang saham minoritas. Prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan corporate
governance menunjukkan adanya perlindungan tersebut tidak hanya kepada
pemegang saham tetapi meliputi seluruh pihak yang terlibat dalam perusahaan
termasuk masyarakat. Sebelum go public perusahaan lebih sering menutup informasi
bagi pihak luar perusahaan, tetapi setelah go public perusahaan diwajibkan membuka
informasi kepada pihak luar perusahaan. Sebelum go public suatu perusahaan bebas
melakukan transaksi, tetapi setelah perusahaan tersebut go public transaksi yang
dilakukan tidak bisa lagi dilakukan secara bebas, tetapi harus mementingkan
kepentingan pemegang saham minoritas, yaitu transaksi yang mengandung conflict of
interest. Setiap transaksi yang mengandung conflict of interest harus mengikuti
prosedur yang diatur oleh Bapepam. Peraturan ini dimaksudkan agar manajemen
perusahaan dalam mengambil kebijakan harus bersifat independen dan tidak
merugikan pemegang saham. Investor akan cenderung menghindari perusahaanperusahaan
yang memiliki penerapan corporate governance yang buruk. Penerapan
corporate governance dapat dicerminkan dalam nilai perusahaan dilihat dari harga
saham perusahaan dan komposisi dari dewan komisaris dan direksi.
Secara rata-rata dan konsisten , IPO memberikan return yang positif secara
signifikan dalam jangka pendek dan pada umumnya dipercaya bahwa hal ini terjadi
akibat daripada terjadinya underpricing saham-saham perdana yang dilakukan oleh
penjamin.
Underpricing adalah suatu keadaan dimana harga saham pada saat penawaran
perdana lebih rendah dibandingkan dengan ketika diperdagangkan di pasar sekunder.
Dimana Underpricing merupakan selisih positif antara harga saham di pasar sekunder
dengan harga saham di pasar perdana atau saat IPO. Selisih harga inilah yang dikenal
sebagai Initial Return (IR) atau positive return bagi investor
Offering price (IPO price) atau Harga Penawaran adalah harga jual saham
biasa yang ditawarkan kepada masyarakat umum di pasar sekunder. Closing price
atau harga penutupan adalah harga jual saham yang ditutup oleh emiten terhadap
underwriter pada pasar perdana. Bagi perusahaan yang mengeluarkan saham, apabila
terjadi underpricing berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dana
maksimal. Sebaliknya bila terjadi overpricing perusahaan akan berhasil menghimpun
dana lebih murah, sehingga akan mendapatkan dana yang maksimal.
Pelaku pasar sepenuhnya menggunakan semua informasi pada pergerakan
harga dimasa lampau (namun tidak perlu menggunakan informasi umum lainnya).
Investor pada IPO sudah mendapat informasi sebelumnya (ex ante) tentang harga
pasar ekuilibrium atau tidak mendapatkan informasi sebelumnya. Jika IPO
underprice, investor yang sudah mendapat informasi akan membeli saham perdana,
menyebabkan penerbitan saham baru tersebut kemungkinan besar akan mendapat
pelanggan yang berlebihan (oversubscribed) sehingga dibutuhkan pengalokasian atau
penjatahan saham. Pedagang yang tidak mendapatkan informasi sebelumnya akan
mendapatkan penjatahan sesuai yang mereka pesan.
Sebaliknya, jika penerbitan saham mengalami overpriced, investor yang
memiliki informasi akan menghindari pembelian saham menyebabkan hanya investor
yang tidak memiliki informasi yang melakukan pemesanan saham. Rata-rata
underpricing yang dialami saham perdana (IPO) dianggap sebagai kompensasi bagi
investor yang tidak memiliki informasi dalam rangka mengajak mereka untuk tetap
berpartisipasi.fenomena underpricing memang terjadi di bursa efek masing-masing
negara. Hanya saja besaran underpricing tersebut yang berbeda-beda untuk masingmasing
negara tersebut tergantung pada periode penelitian dan besarnya sampel yang
digunakan pada penelitian tersebut. Secara internasional terbukti bahwa IPO
mengalami underpricing dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang sebagian
IPO mengalami underpricing dan sebagian lagi overpricing. Hal ini merupakan
fenomena menarik karena dapat dijadikan bahan bagi investor untuk berpartisipasi di
pasar perdana karena memberikan tingkat return yang cukup besar.
2.5 Faktor- Faktor Underpricing Saham
2.5.1 Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga atas unjuk dalam Rupiah yang
diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dan
diperjualbelikan dengan diskonto (Siamat, 2001). Untuk pertama kalinya SBI terbit tahun
1997 dengan tujuan menciptakan suatu instrument pasar uang yang hanya diperdagangkan
antara perbankan. Sebagai salah satu instrument Operasi Pasar Terbuka (OPT) , SBI
diterbitkan dan ditawarkan dalam sistem lelang. Secara tidak langsung BI mempengaruhi
tingkat suku bunga di pasar uang melalui SBI dengan mengumumkan Stop Out Rate (SOR),
yakni tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas penawaran tingkat suku bunga dari
peserta lelang. Biasanya SOR digunakan sebagai indikator tingkat suku bunga transaksi di
pasar uang.
Tingkat diskonto menjadi dasar transaksi jual beli SBI. Sedangkan faktor yang
mempengaruhi harga SBI itu sendiri adalah besarnya discount rate dan jumlah hari jatuh
tempo SBI.
SBI dianggap terbatas, pasarnya luas dan tingkat diskontonya tidak dapat
dipengaruhi oleh bank manapun yang ikut lelang. Bahkan penempatan dana dalam
SBI tersebut dapat memberikan pendapatan kepada bank yang setiap saat dapat
dijadikan uang tunai tanpa mengakibatkan kerugian pada bank sehingga bank
memperoleh dua manfaat sekaligus yakni untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan
profitabilitas bank.
2.5.1.a Tujuan penerbitan SBI
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter memiliki wewenang dalam
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter untuk mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah. Dalam hal ini laju inflasi menjadi dasar arah kebijakan
moneter dengan memperhatikan berbagai sasaran ekonomi makro lainnya baik dalam
jangka panjang, menengah maupun panjang. Implementasi kebijakan moneter
dilakukan dengan menetapkan sasaran operasional, yaitu uang primer (base money).
Maksudnya jumlah uang primer yang berlebihan di BI dapat mengurangi kestabilan
nilai Rupiah. SBI diterbitkan dan dijual oleh BI dengan tujuan mengurangi kelebihan
uang primer yang dimaksud.
Dasar hukum penerbitan SBI tercantum pada Surat Keputusan Direksi BI
Noor 31/67/KEP/DIR tanggal 23 Juli 1998 yang memuat tentang penerbitan dan
perdagangan BI serta mengenai intervensi BI terhadap Rupiah.
2.5.1.b Karakteristik SBI
Menurut Siamat (2001) beberapa karakeristik yang dimiliki SBI antara lain:
• Jangka waktu maksimal 12 bulan dan sementara waktu hanya diterbitkan untuk
jangka waktu 1 bulan dan 3 bulan.
• Denominasi dari yang terendah Rp.50 juta hingga yang tertingi Rp.100 miliar
• Pembelian SBI oleh masyarakat minimal Rp.100 juta dengan kenaikan kelipatan
Rp.50 juta
• Pembelian SBI didasarkan pada jangka waktu maksimalnya
• Pembelian SBI memperoleh hasil berupa tingkat diskonto yang dibayar di muka
• Pajak Penghasilan (PPH) atas diskonto dikenakan 15%
2.5.1.c Tata Cara Perdagangan SBI
Transaksi SBI dilakukan dengan tata cara perdagangan sebagai berikut:
• Penjualan SBI dilakukan melalui lelang
• Jumlah SBI yang akan dilelang diumumkan setiap hari selasa
• Lelang SBI dilakukan setiap hari Rabu dan dapat diikuti oleh seluruh bank umum,
pialang pasar uang dan pialang pasar modal dengan penyelesaian transaksi hari
kamis
• Dalam pelaksanaan lelang SBI, masing-masing peserta mengajukan penawaran
tingkat diskonto yang terendah sampai dengan jumlah SBI lelang yang diumumkan
tercapai.
• Untuk menjaga keamanan dari kehilangan atau pencurian serta menghindari
pemalsuan, maka pihak pembeli SBI memperoleh Bilyet Depot Simpanan sebagai
bukti atas penyimpanan fisik warkat atas SBI pada BI tanpa dipungut biaya
penyimpanan
Tingkat suku bunga SBI merupakan tingkat suku bunga dalam bentuk persen
yang ditentukan oleh BI sebagai pemegang otoritas moneter dalam upaya
mengendaliakan jumlah uang beredar.
Suku bunga yang tinggi disatu sisi akan meningkatkan hasrat masyarakat
untuk menabung sehingga jumlah dana perbankan akan meningkat. Sementara itu di
sisi lain suku bunga yang tinggi akan meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh
dunia usaha sehingga mengakibatkan penurunan kegiatan produksi di dalam negeri
dan menyebabkan penurunan kebutuhan dana oleh dunia usaha. Hal ini berakibat
permintaan terhadap kredit perbankan juga menurun. Di sisi perbankan, dengan
bunga yang tinggi, bank mampu menghimpun dana untuk disalurkan dalam bentuk
kredit kepada dunia usaha. Namun disisi dunia usaha, walaupun dana kredit
perbankan tersedia, beban bunga yang harus mereka tanggung lebih tinggi sehingga
dunia usaha cenderung mencari alternatif pendanaan yang lebih murah (Pohan,2008).
2.5.2 Inflasi
2.5.2.a Pengertian inflasi
Menurut Putong dan Andjaswati (2008) inflasi adalah proses kenaikan hargaharga
umum barang-barang secara terus-menerus selama suatu periode tertentu.
Kenaikan harga tersebut diukur dengan menggunakan indeks harga, diantaranya:
– Indeks biaya hidup untuk mengukur biaya/ pengeluaran untuk membeli
sejumlah barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga untuk keperluan
hidup. Angka penimbang biasanya didasarkan atas besarnya persentase
pengeluaran untuk barang tertentu terhadap pengeluaran keseluruhan dan
Universitas Sumatera Utara
besarnya persentase ini dapat berubah dari tahun ke tahun. Laju inflasi dapat
diperoleh dengan cara menghitung persentase kenaikan / penurunan indeks
harga suatu komoditi dari tahun ke tahun.
– Indeks perdagangan besar yakni menitikberatkan pada sejumlah barang pada
tingkat perdagangan besar. Yang termasuk dalam indeks ini adalah harga
bahan mentah, bahan baku atau setengah jadi.
– GNP deflator adalah jenis indeks yang mencakup jumlah barang dan jasa yang
masuk dalam perhitungan GNP, sehingga jumlahnya lebih banyak bila
dibandingkan dengan dua indeks sebelumnya. GNP deflator diperoleh dengan
membagi GNP nominal (atas dasar harga berlaku) dengan GNP riil (atas dasar
harga konstan).
2.5.2.b Jenis- Jenis Inflasi
■ Jenis Inflasi Menurut Sifatnya
Inflasi dapat dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan besarnya laju inflasi, yakni:
1) Inflasi merayap (creeping inflation)
Yakni inflasi dengan laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% pertahun).
Kenaikan harga berjalan secara lambat dengan persentase yang kecil serta dalam
jangka waktu yang panjang.
2) Inflasi menengah (Galloping Inflation)
Yakni inflasi dengan kenaikan harga yang cukup besar (dua digit atau tiga
digit), kenaikan harga berjalan secara singkat serta mempunyai sifat akselerasi.
3) Inflasi tinggi (hyper inflation)
Universitas Sumatera Utara
Yakni inflasi yang akibatnya paling parah dimana harga-harga naik sampai 5
atau 6 kali. Sehingga masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang.
Dalam keadaan ini nilai uang merosot dengan tajam sehingga masyarakat lebih ingin
ditukarkan dengan barang. Perputaran uang makin cepat dan harga naik secara
akselerasi. Keadaan ini biasanya timbul apabila pemerintah mengalami defisit
anggaran belanja (misal adanya perang) yang dibelanjai atau ditutup dengan
mencetak uang.
■ Jenis Inflasi Menurut Sebabnya
1) Demand pull Inflation
Inflasi ini diawali dengan adanya kenaikan jumlah permintaan sedangkan
produksi telah berada pada kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati
kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan kesempatan kerja, kenaikan permintaan total
juga menaikkan hasil produksi (output) selain menaikkan harga. Sedangkan apabila
produksi dalam keadan kesempatan kerja penuh telah tercapai, maka kenaikan
permintaan tidak lagi mendorong kenaikan output, tetapi hanya mendorong kenaikan
harga-harga yang biasa akibatnya sesuai dengan hukum permintaan, bila permintaan
banyak sementara penawaran tetap maka harga akan naik. Jika hal ini berlangsung
terus-menerus akan mengakibatkan inflasi yang berkepanjangan. Sehingga perlu
dilakukan pembukaan kapasitas produksi baru dengan penambahan tenaga kerja yang
baru.
2) Cost Push Inflation
Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi akibat pergeseran kurva
penawaran agregat. Dalam kondisi ini, tingkat penawaran lebih rendah jika
Universitas Sumatera Utara
dibandingkan dengan tingkat permintaan karena terjadinya kenaikan harga faktor
produksi sehingga produsen terpaksa mengurangi produksinya sampai pada jumlah
tertentu. Jumlah penawaran terus menurun karena semakin mahalnya biaya produksi.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang akan mengakibatkan
inflasi. Ada beberapa faktor yang meningkatkan biaya produksi sehingga terjadinya
cost push inflation, yaitu:
a. Para pekerja yang menuntut kenaikan upah yang biasanya dikoordinir oleh
organisasi serikat buruh
b. Adanya industri monopolis yang membuat para pengusaha dapat menguasai pasar
dan menetapkan harga yang tinggi.
c. Kenaikan harga bahan baku industri
■ Jenis Inflasi Berdasarkan Asal Terjadinya
1) Domestc inflation
Inflasi domestik adalah inflasi yang berasal dari dalam negeri karena
terjadinya kenaikan harga yang disebabkan adanya kejutan dari dalam negeri, baik
karena perilaku masyarakat maupun perilaku pemerintah dalam mengeluarkan
kebijakan-kebijakan. Terjadinya kenaikan harga yang absolute menyebabkan
terjadinya inflasi bahkan meningkatkan angka inflasi.
2) Imported Inflation
Imported Inflation adalah inflasi yang terjadi di dalam negeri karena adanya
pengaruh harga dari luar negeri terutama barang-barang impor atau bahan baku
industri yang masih belum dapat diproduksi di dalam negeri.
■ Jenis Inflasi Berdasarkan Sudut Bobotya
1) Inflasi Ringan
Yaitu inflasi yg bercirikan dengan kenaikan harga-harga yang berjalan lambat
dengan persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif lama.
2) Inflasi Sedang
Yaitu inflasi yang bercirikan dengan kenaikan harga yang lebih cepat dan
perlu diwaspdai dampaknya bagi perekonomian.
3) inflasi Berat
Yaitu inflasi yang bercirikan dengan kenaikan harga yang cukup besar dan
kadang-kadang berjalan dalam waktu yang relatif singkat.
4) Inflasi Sangat Berat
Yaitu inflasi dengan laju pertumbuhan melampaui 100% pertahun.
2.5.2.c Penyebab Terjadinya Inflasi dan Dampaknya
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya inflasi, diantaranya sebagai
berikut:
• Berbagai usaha yang dilakukan para golongan dan pelaku ekonomi untuk
memperoleh tambahan pendapatan yang lebih besar dengan cara menaikkan
tingkat produktivitas mereka
• Tindakan pemerintah yang sangat berambisi dalam menguasai sumber-sumber
ekonomi dalam jumlah besar yang seharusnya diserahkan pada pihak swasta.
• Efek psikologis yang timbul di kalangan masyarakat misalnya isu devaluasi yang
menyebabkan permintaan masyarakat terhadap produk tertentu melonjak drastis.
•. Kebijakan pemerintah baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi yang dapat
mendorong kenaikan harga seperti kenaikan tarif angkutan umum, kenaikan tarif
listrik, kenaikan gaji pegawai negeri dan sebagainya
Inflasi berdampak luas dan beranekaragam, tidak hanya di bidang ekonomi
tetapi juga mempengaruhi sosial politik suatu Negara. Pertumbuhan inflasi yang
tinggi akan melemahkan kinerja perekonomian suatu Negara. Berikut adalah dampak
terjadinya inflasi yakni:
1) Equity Effect
Maksudnya terjadinya berpengaruh terhadap pendapatan yang sifatnya tidak
merata karena ada pihak yang dirugikan yakni orang-orang yang berpenghasilan tetap
dan ada pula yang diuntungkan yakni mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan
dengan tingkat persentase yang lebih besar daripada tingkat inflasi. Selain itu inflasi
juga mengakibatkan terjadinya perubahan pada distribusi pendapatan dan kekayaan
masyarakat dimana inflasi berfungsi sebagai pajak bagi seserorang dan merupakan
subsidi bagi orang yang berpenghasilan rendah. Dan bila keadaan tersebut tidak
diatasi, dalam jangka panjang akan memperlebar kesenjangan antara masyarkat yang
berpenghasilan tinggi dan masyarkat yang berpenghasilan menengah kebawah.
2) Efficiency Effect
Inflasi juga berpengaruh terhadap biaya produksi. Peningkatan pada hargaharga
faktor produksi akan mengubah pola alokasi faktor produksi. Perubahan
tersebut diawali dengan terjadinya kenaikan permintaan akan berbagai jenis barang
sehingga mendorong peningkatan produksi terhadap barang-barang tersebut dan
akhirnya lebh efisien.
2.5.2.d Model Teori Inflasi
■ Teori Kuantitas
Teori ini dikembangkan oleh kelompok monetaris (sekelompok ekonomi dari
Chicago University) dan merupakan teori yang paling tua dan mendekati inflasi dari
segi permintaan. Menurut teori kuantitas ada dua faktor yang mempengaruhi
terjadinya inflasi, yakni:
1) Jumlah Uang Beredar (JUB)
Peningkatan JUB baik uang kartal maupun uang giral akan menyebabkan
terjadinya inflasi. Misalnya ketika terjadi kegagalan panen akan meningkatkan
harga pertanian dan harga kebutuhan pokok lainya. Hal ini akan menyebabkan
inflasi. Oleh karena itu Pemerintah perlu meningkat JUB agar inflasi dapat
dihentikan.
2) Harapan masyarkat berhubungan dengan kenaikan harga-harga pada masa yang
akan datang
Ada empat kemungkinan harapan masyarakat pada masa yang akan datang,
yakni:
> Jika masyarakat belum mengharapkan kenaikan harga-harga pada bulan
mendatang maka sebagian besar dari penambahan jumlah uang beredar akan
diterima masyarakat untuk menambah uang kas yang disimpannya. Kondisi ini
tidak akan meningkatkan permintaan masyarakat terhadap barang sehingga
harganya tidak naik.
> Jika masyarakat mengharapkan adanya kenaikan harga pada masa yang akan
datang akan mengakibatkan adanya pertambahan uang kas yang dipegang
tetapi dipergunakan untuk membeli barang-barang yang diperkirakan akan naik
pada masa yang akan datang dengan demikian masyarakat terhindar dari
kerugian.
> Masyarakat yang tidak ingin memegang uang kas atau berkeinginan untuk
mengurangi uang kas yang dipegang untuk dibelanjakan sehingga harga-harga
barang akan menjadi lebih tinggi lagi.
■ Teori Keynes
Menurut pendekatan ini inflasi terjadi karena suatu kelompok masyarakat
ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya, sehingga proses inflasi merupakan
proses tarik-menarik antar golongan masyarakat untuk memperoleh bagian dana
masyarakat yang lebih besar daripada yang mampu disediakan oleh masyarakat
sendiri sehingga akan menimbulkan kesenjangan inflasi (inflationary gap) . tekanan
dari golongan ini akan mengakibatkan kenaikan biaya.
2.5.2.e Kebijakan Dalam Mengatasi Inflasi
Universitas Sumatera Utara
Pemerintah melalui bank sentral perlu mengambil tindakan untuk
memperbaiki kondisi ekonomi yang hancur yang disebabkan inflasi dengan kebijakan
moneter maupun kebijakan fiskal. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing
kebijakan, yakni:
■ Kebijakan Moneter
1) Tight money policy
Merupakan kebijakan dari Bank untuk menjual surat-surat berharga seperti
obligasi negara kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah uang beredar.
Berkurangnya uang yang dipegang masyarakat menyebabkan permintaan terhadap
barang berkurang dan penjualan barang dipasar hanya dapat dilakukan apabila harga
diturunkan. Apabila hal ini dapat dilaksanakan maka inflasi pun dapat diatasi.
2) Menaikkan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia)
Terdapat kaitan erat investasi yang akan dijalankan dan nilai bunga yang
harus dibayar dari modal yang dpinjam dengan keinginan orang atau badan usaha
untuk mengadakan pinjaman kepada badan-badan kredit. Apabila bunga pinjaman
semakin besar maka ada kecendrungan tertahannya aktiva yang besar yang
pembiayaannya didasarkan atas peminjaman dari badan kredit. Sehingga kenaikan
tingkat bunga dari bank akan mengurangi keinginan badan-badan kredit untuk
mengadakan peminjaman dalam memenuhi permintaan pinjaman masyarakat dan hal
ini dapat mengatasi tekanan inflasi.
3) Menurunkan nilai tukar mata uang
Pemerintah melakukan intervensi terhadap mata uang asing untuk mengatur
nilai tukar dan mempermudah biaya impor barang-barang material sehingga inflasi
dapat diatasi.
■ Kebijakan Fiskal
1) Meningkatkan pajak
Dengan menaikkan pajak berarti penghasilan seseorang akan berkurang dan
tenaga pembelanjaan berkurang sehingga kenaikan harga barang-barang tidak
mungkin terjadi lagi tetapi harga barang akan turun seimbang dengan jumlah uang
yang ada di masyarakat.
2) Menurunkan pengeluaran pemerintah
Salah satu cara untuk menurunkan pengeluaran pemerintah adalah dengan
menetralisisr kenaikan pengeluaran swasta sehingga pengeluaran dalam
perekonomian dapat dikendalikan. Selain itu pemerintah juga dapat menaikkan pajak
dan mengadakan pinjaman pemerintah
3) Mengurangi biaya ekonomi tinggi
Agar perekonomian dapat keluar dari keadaan inflasi maka pemerintah
melakukan deregulasi-deregulasi dalam perizinan serta kemudahan dalam
pendistribusian barang agar harga barang menjadi turun atau paling tidak tetap.
2.5.3 Nilai Tukar Rp terhadap USD (Kurs Rp/ USD)
2.5.3.a Pengertian Nilai Tukar
Di dalam perdagangan internasional proses transaksi jual beli barang yang
terjadi antar masyarakat suatu Negara dengan masyarakat negara lain yang
menghendaki pembayaran dalam mata uang masing-masing, yang satu sama lain
saling berbeda dan dalam mata uang tertentu dapat diterima secara internasional
sepert Dollar AS, Poundsterling, Yen dan lain-lain. Namun dalam berbagai transaksi
internasional, Dollar AS paling sering digunakan sehingga menjadi mata uang
terkemuka yang secara luas digunakan sebagai suatu nilai kontrak internasional
antara pihak-pihak yang bukan merupakan penduduk dari Negara pencetak uang
tersebut. Oleh karena itu untuk mempermudah proses transaksi jual beli barang dan
jasa sangatlah penting dilakukan pertukaran antara satu mata uang dengan mata uang
Negara lain di dalam perdagangan internasional. Sehingga dapat diperoleh
perbandingan nilai uang antara harga atau kedua mata uang tersebut dan inilah yang
disebut dengan nilai tukar atau kurs. Jadi secara umum kurs dapat diartikan sebagai
harga suatu mata uang suatu negara terhadap mata uang asing atau harga mata uang
negara asing dalam satuan mata uang domestik. (Samuelson,2001).
Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang akan selalu mengalami
fluktuasi (perubahan-perubahan) yang berdampak langsung pada harga barang-barang
ekspor dan impor.
Perubahan yang dimaksud adalah:
a) Revaluasi yaitu peningkatan nilai resmi mata uang suatu negara dibanding mata
uang lainnya atau emas oleh pemerintah dengan sengaja.
b) Devaluasi yaitu penurunan nilai resmi mata uang suatu negara dibanding mata
uang lainnya atau dibanding emas oleh pemerintah dengan sengaja.
c) Apresiasi yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara otomatis akibat
bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang
bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs adalah
harga produk negara itu bagi pihak luar negeri semakin mahal sedangkan harga
impor bagi penduduk domestik menjadi lebih murah.
d) Depresiasi yaitu peistiwa penurunan nilai tukar mata uang secara otomatis akibat
bekerjanya kekuatan permintaan dan penawaran atas mata uang yang bersangkutan
dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs adalah harga produk
negara itu bagi pihak luar negeri semakin murah sedangkan harga impor bagi
penduduk domestik menjadi lebih mahal.
2.5.3.b Pasar Valuta Asing
Dalam melakukan transaksi perdagangan internasional yang abanyak
menggunakan mata uang asing diperlukan suatu pasar valuta asing (valas). Pasar
valas merupakan tempat berlangsungnya perdagangan berbagai mata uang yang
berbeda atau mata uang asing diperjualbelikan dan ditentukan nilai tukarnya
(Manurung, 2004). Secara umum ada 4 (empat) pelaku utama dalam pasar valuta
asing, yaitu:
• Para pelaku transaksi tradisional seperti para wisatawan, importir, eksportir dan
investor yang merupakan pengguna valas yang bersifat langsung
• Bank-bank komersial yang bertindak sebagai perantara atau lembaga kliring antara
pemakai (sumber permintaan) dan penghimpun (sumber penawaran) valuta asing
yang merupakan inti (pusat) pasar valas, karena hampir semua transaksi
internasional bernilai besar melibatkan kegiatan pencatatan debet dan kredit pada
rekening bank-bank komersial di berbagai pusat keuangan dunia.
• Para pialang valas yang bertindak sebagai perantara bagi bank-bank komersial di
suatu negara untuk melakukan berbagai jenis mata uang di kalangan perbankan itu
sendiri
• Bank sentral yang bertindak sebagai pembeli dan penjual terakhir dari keseluruhan
valas yang ada di suatu negara serta merupakan aktor utama yang menyamakan
pendapatan dan pengeluaran valas di suatu negara dengan mengurangi atau
menambah cadangan devisa.
Ada beberapa tindakan atau alasan para pelaku pasar devisa dalam melakukan
perdagangan internasional, yakni:
• Clearing
Dalam kondisi ini para pelaku pasar terlibat dalam pertukaran barang dan jasa
dan ingin memperoleh atau menyerahkan mata uang mereka yang lebih menarik
bagi pihak lain yang berurusan dagang dengan mereka. Atau dengan kata lain,
ekspor barang dan jasa yang dilakukan menyebabkan mata uang negara lain akan
dijual untuk dapat membeli mata uang negara itu. Sebaliknya mengimpor barang
dan jasa satu sama lain cenderung menyebabkan mata uang dalam negeri akan
dijual untuk dapat membeli mata uang negara lain.
• Hedging
Yakni suatu tindakan untuk menyamakan aset dan tanggung gugat dalam
bentuk nilai tukar mata uang asing, agar dengan demikian kebal terhadap resiko
yang akan terjadi akibat dari perubahan-perubahan di masa mendatang dalam nilai
mata uang luar negeri. Atau sebagai tindakan untuk memastikan bahwa kita tidak
memilki (menghapuskan) aset atau tidak memiliki posisi tanggung gugat
sehubungan dengan mata uang yang tidak ingin kita miliki atau pinjam dari negara
lain.
• Spekulasi
Merupakan suatu tindakan mengambil posisi aset (posisi lama) atau posisi
tanggung gugat (posisi pendek) terhadap mata uang Negara lain yang mengacu
pada pembelian dan penjualan properti yang secara murni dilakukan demi
memperoleh keuntungan dari adanya perubahan harga yaitu keuntungan dari mata
uang Negara lain yang didasarkan atas kesadaran. Dimana tindakan ini didorong
oleh suku bunga mata uang dalam negeri dan mata uang asing yang dimilikinya dan
juga harapan-harapan terhadap gerakan masa depan dari nilai tukar mata uang yang
mau diperdagangkan.
2.5.3.c Teori- Teori Kurs
■ Pendekatan perdagangan/ pendekatan elastisitas terhadap pembentukan kurs.
Yakni nilai tukar dari dua negara ditentukan oleh besar kecilnya perdagangan
barang dan jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut. Menurut
pendekatan ini, kurs equilibrium adalah kurs yang akan menyeimbangkan nilai
impor dan ekspor dari suatu Negara. Jika nilai impor Negara tersebut lebih besar
daripada nilai ekspornya (Negara mengalami defisit anggaran) maka kurs mata
uangnya akan mengalami peningkatan ( berarti mata uang mengalami depresiasi
Universitas Sumatera Utara
atau penurunan nilai tukar) dan akan berlangsung cepat dalam sistem kurs
mengambang. Peningkatan ataupun penurunan nilai tukar mata uang tersebut akan
membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih murah bagi
importir atau menjadi lebih mahal bagi produk domestik. Sehingga lambat laun
ekspor Negara tersebut akan mengalami kenaikan sedangkan impornya akan terus
menurun sampai pada akhirnya nilai perdagangan internasional berada pada posisi
seimbang (ekspor = impor) karena kecepatan proses penyesuaian tersebut
ditentukan oleh seberapa responsif atau elastis impor dan ekspor terhadap
perubahan-perubahan harga (kurs) maka pendekatan ini lebih populer dengan
sebutan pendekatan elastis.
■ Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity/ PPP)
Menurut teori ini pasar valas berada dalam kondisi keseimbangan apabila
semua deposito atau simpanan dalam berbagai valas menawarkan tingkat imbalan
yang sama. Kondisi dimana tingkat imbalan yang ditawarkan semua simpanan
dalam berbagai valas sama disebut kondisi paritas suku bunga (interest parity).
Perubahan suku bunga senantiasa disertai perubahan kurs di masa mendatang. Oleh
sebab itu perkiraan kurs di masa mendatang juga ditentukan oleh berbagai faktor
ekonomi yang juga mengakibatkan perubahan suku bunga tadi. Adapun beberapa
kelemahan yang terkandung didalam teori PPP adalah:
– Asumsi yang dianut oleh hukum satu harga, yakni biaya-biaya transportasi
dan pembatasan perdaganagn bisa diabaikan, asumsi yang dianut oleh hukum
satu harga, ternyata dalam prakteknya tidak dapat dipertahankan.
– Praktek monopolistik dan oligopolistik di berbagai pasar barang bersama
dengan besarnya aneka biaya transportasi serta pembatasan perdagangan,
semakin memperlemah keterkaitan harga atas barang yang sama di berbagai
negara.
– Oleh karena data-data inflasi di berbagai negara didasarkan pada jenis
komoditi acuan yang berlainan, maka perubahan kurs tidak bisa diharapkan
mampu mengimbangi selisih inflasi resmi meskipun tidak ada pembatasan
perdagangan dan semua produk bisa diperdagangkan.
■ Pendekatan Moneter
Menurut pendekatan ini kurs tercipta dalam proses penyamaan atau
penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional di
masing-masing negara. Penawaran uang di suatu negara di asumsikan dapat
ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otoritas moneter dari negara
yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat ditentukan oleh
tingkat pendapatan riil negara tersebut atau harga-harga umum yang berlaku serta
suku bunga, dimana permintaan uang berbanding lurus dengan harga-harga umum
dan berbanding terbalik terhadap suku bunga. Pada tingkat pendapatan riil atau
harga-harga tertentu, suku bunga equilibrium terbentuk pada titik perpotongan
antara kurva permintaan dan kurva penawaran uang yang ada di suatu Negara.
Pendekatan moneter mengasumsikan bahwa aset-aset finansial domestik dan luar
negeri seperti obligasi yang diterbitkan oleh berbagai negara satu sama lain
merupakan pengganti atau substitusi yang sempurna. Namun dalam prakteknya,
obligasi yang diterbitkan oleh suatu negara sangat berbeda baik jenis maupun
bobotnya dibandingkan obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara lain.
■ Pendekatan Keseimbangan Portfolio
Pendekatan ini merumuskan bahwa kurs sesungguhnya terbentuk dalam
penyeimbang stok atau total permintaan dan penawaran aset-aset finansial dalam
setiap negara. Asumsi yang dipergunakan dalam pendekatan ini adalah:
– Obligasi domestik dan luar negeri sebagai substansi yang tidak sempurna
– Memperhitungkan arti penting perdagangan (sektor riil)
Terjadinya kenaikan penawaran uang di Negara domestik akan mendorong
terjadinya kemerosotan di negara yang bersangkutan sehingga akan membuat
para investor menukarkan obligasi domestiknya menjadi mata uang domestik
dan obligasi luar negeri. Pembelian secara besar-besaran atas obligasi luar
negeri itu dengan sendirinya menimbulkan depresiasi atas mata uang
domestik. Selanjutnya depresiasi merangsang peningkatan ekspor negara
domestik sehingga menciptakan surplus perdagangan bagi domestik yang
segera disusul oleh apresiasi mata uangnya. Dengan demikian keseimbangan
portfolio juga menjelaskan terjadinya lonjakan kurs namun tidak seperti
pendekatan moneter, ia mampu menjelaskannya secara eksplisit dan
mengaitkan peran perdagangan dalam proses penyesuaian kurs dalam jangka
panjang.
2.6 Penelitian terdahulu
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing telah dilakukan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dian Febrina (2004) tentang tujuh
variabel yang mempengaruhi terjadinya underpricing saham perusahaan (selain
perbankan dan lembaga keuangan) saat melakukan penawaran perdana pada
perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta periode 2000-2002. Febrina
menyimpulkan bahwa variabel independen yang meliputi reputasi auditor, reputasi
underwriter, umur perusahaan, solvabilitas perusahaan, profitabilitas perusahaan dan
jenis industri tidak berpengaruh terhadap underpricing dan hanya return on asset
(ROA) yang signifikan.
Christian (2008) meneliti faktor- faktor yang mempengaruhi underpricing
pada 99 perusahaan (bank dan nonbank) yang digunakan sebagai sampel dalam
penelitian ini menyebutkan bahwa variabel reputasi underwriter dan pertumbuhan
laba berpengaruh signifikan terhadap underpricing sedangkan variabel reputasi
auditor,ukuran perusahaan dan komposisi komisaris independen tidak signifikan.
Martin Maulana (2009) juga meneliti faktor yang mempengaruhi tingkat
underpricing saham pada 33 perusahaan (selain perbankan dan lembaga keuangan)
menyebutkan bahwa hanya variabel firmsize yang memiliki pengaruh signifikan
terhadap underpricing sedangkan Earning Per Share (EPS), Return On Asset (ROA),
financial leverage, proceeds tidak berpengaruh signifikan

Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17715/4/Chapter%20II.pdf

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: